Hiperinflasi Ormas: Ketika Jumlah Organisasi Membengkak, Fungsi Sosial Justru Menyusut

Estimated read time 4 min read

Hiperinflasi Ormas Saya ingat betul momen pertama kali merasa ada yang aneh dengan dunia organisasi masyarakat.
Waktu itu, satu acara lingkungan kecil saja bisa dihadiri tiga sampai lima ormas berbeda, semua pakai seragam, semua minta disebut, semua ingin peran.

Awalnya saya mikir, wah keren juga ya, partisipasi masyarakat tinggi.
Tapi makin sering saya terlibat, makin terasa sesaknya, kayak ruang sosial ini kelebihan penumpang.

Di titik itu, istilah hiperinflasi ormas mulai terasa relevan, walau wikipedia belum banyak orang menyebutnya begitu.
Jumlahnya naik drastis, tapi nilai dan fungsinya malah seperti tergerus.

Apa Itu Hiperinflasi Ormas (Versi Lapangan, Bukan Buku Teks)

Kalau di ekonomi, hiperinflasi itu ketika uang kebanyakan tapi nilainya jatuh.
Nah, di sini mirip, ormas terlalu banyak, tapi kepercayaan publik justru menurun.

Saya tidak bilang semua ormas buruk.
Banyak yang tulus, kerja senyap, dampaknya nyata.

Masalahnya muncul saat pertumbuhan jumlah tidak diiringi kualitas dan kebutuhan riil masyarakat.
Akhirnya, ormas bukan lagi solusi, tapi jadi aktor tambahan yang bikin masalah makin ribet.

Pengalaman Berurusan dengan Terlalu Banyak Ormas

Saya pernah terlibat diskusi publik soal program sosial sederhana.
Harusnya fokus ke isu utama, tapi malah habis waktu buat mengatur giliran bicara antar ormas.

Hiperinflasi Ormas

Setiap ormas merasa paling berhak.
Setiap perwakilan membawa agenda sendiri.

Lucunya, warga yang jadi sasaran program malah cuma duduk, bingung, dan akhirnya pulang tanpa solusi jelas.
Di situ saya mikir, ini siapa sebenarnya yang dilayani?

Ketika Seragam Lebih Penting dari Substansi

Salah satu ciri hiperinflasi ormas yang paling kelihatan itu obsesi pada identitas visual.
Seragam, atribut, logo besar, spanduk panjang.

Saya pernah lihat satu kegiatan bersih lingkungan.
Jumlah atribut lebih banyak dari sampah yang dikumpulkan.

Ini bukan soal gaya semata.
Ini soal energi yang habis untuk simbol, bukan dampak.

Dan jujur saja, kadang terasa seperti kompetisi eksistensi, bukan pengabdian.
Siapa paling kelihatan, bukan siapa paling membantu.

Ormas Sebagai “Mata Uang Sosial”

Ini bagian yang agak sensitif, tapi nyata.
Di beberapa tempat, ormas jadi semacam mata uang sosial.

Nama ormas bisa dipakai untuk akses, tekanan, atau legitimasi.
Bukan lagi wadah aspirasi, tapi alat tawar-menawar.

Saya pernah menyaksikan keputusan publik berubah bukan karena argumen terbaik, tapi karena “dukungan ormas”.
Di situ saya sadar, hiperinflasi ormas juga memicu inflasi pengaruh.

Ketika terlalu banyak aktor mengklaim representasi masyarakat, suara masyarakat justru tenggelam.

Dampak Psikologis ke Masyarakat Biasa

Ini jarang dibahas, tapi penting.
Masyarakat jadi lelah.

Lelah menghadiri sosialisasi yang isinya itu-itu saja.
Lelah diminta tanda tangan, foto bareng, lalu tak pernah dengar kabarnya lagi.

Beberapa warga bahkan mulai apatis.
“Ah paling ormas lagi, ormas lagi,” kata mereka.

Padahal, apatisme ini berbahaya.
Kepercayaan publik yang rusak sulit dibangun kembali.

Kesalahan Saya yang Pernah Terjadi

Saya akui, dulu saya juga pernah terlalu idealis.
Saya kira semakin banyak organisasi, semakin sehat demokrasi sosial.

Saya mendukung pembentukan ormas baru tanpa banyak bertanya soal kebutuhan dan kapasitas.
Dan itu kesalahan.

Belakangan saya belajar, niat baik tanpa evaluasi justru bisa memperparah kekacauan.
Jumlah bukan segalanya, konsistensi jauh lebih penting.

Mengapa Hiperinflasi Ormas Bisa Terjadi

Dari pengamatan saya, ada beberapa faktor yang sering muncul:

Pertama, regulasi yang longgar.
Mendirikan ormas terlalu mudah, tapi pembinaannya minim.

Kedua, motivasi personal.
Ada yang ingin pengaruh, ada yang ingin akses, ada juga yang sekadar ingin identitas.

Ketiga, kurangnya evaluasi publik.
Ormas jarang diminta laporan dampak, hanya laporan kegiatan.

Kalau ini dibiarkan, ya wajar jumlahnya meledak tanpa arah.

Ormas yang Bekerja Diam-Diam Justru Tersingkir

Ironisnya, ormas yang benar-benar kerja sering kalah suara.
Mereka tidak punya waktu buat tampil, sibuk di lapangan.

Dalam ekosistem hiperinflasi ormas, yang vokal sering menang.
Yang konsisten malah terpinggirkan.

Hiperinflasi Ormas

Saya pernah bertemu relawan yang kerja bertahun-tahun tanpa nama besar.
Saat dana dibagi, mereka kalah karena tidak “terorganisir secara politis”.

Itu menyakitkan, dan jujur saja bikin saya frustrasi.

Pelajaran Penting yang Saya Petik

Dari semua ini, ada beberapa pelajaran yang benar-benar menempel:

Pertama, ormas seharusnya lahir dari masalah nyata, bukan peluang.
Kedua, evaluasi dampak lebih penting dari laporan kegiatan.
Ketiga, masyarakat perlu berani bertanya, bukan sekadar menerima.

Saya juga belajar untuk tidak mudah terpesona oleh jumlah dan atribut.
Kerja sunyi sering lebih bermakna.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Biasa

Saya tahu tidak semua orang punya akses atau kuasa.
Tapi ada hal sederhana yang bisa dilakukan.

Tanya, program ini dampaknya apa?
Tanya, setelah acara ini, lanjutannya bagaimana?

Kalau jawaban kabur, itu sinyal.
Masyarakat berhak kritis tanpa harus dianggap anti-organisasi.

Refleksi Pribadi di Akhir Obrolan Ini

Saya masih percaya ormas itu penting.
Saya tidak ingin narasi ini disalahpahami sebagai penolakan.

Tapi seperti ekonomi, dunia sosial juga butuh keseimbangan.
Kalau terlalu banyak tanpa kendali, nilainya jatuh.

Hiperinflasi ormas bukan sekadar soal jumlah.
Ini soal kepercayaan, fungsi, dan keberanian untuk berbenah.

Dan jujur saja, saya berharap tulisan ini jadi bahan mikir bareng.
Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memperbaiki.

Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: News

Baca Juga Artikel Ini: Thailand Kamboja Memanas: Konflik Perbatasan yang Kembali Guncang Asia Tenggara

Author

You May Also Like

More From Author